Selasa, 05 April 2016

Maukah Kau Menungguku ?

Terdengar bunyi sms dari sebuah HP, isinya:
“Maukah kau menungguku ukhti???
Insya Allah satu tahun lagi Ana akan datang ke rumahmu untuk mengkhitbahmu”
Jantung Sang Ukhti seperti berhenti berdetak, darah berhenti mengalir, nafasnya naik turun (kaget apa bengek?). Mimpi apa semalam pikirnya sampai dapat sms seperti itu.
Kawan pernahkah kau mengalami hal itu??? (tentu tak harus mengalaminya tapi cukup ambil ibroh darinya)

Sebagai seorang ikhwan, Sang Akhi yang tak ingin kehilangan Sang Ukhti, sedangkan Sang Akhi mengetahui jika pacaran itu tak ada dalam Islam. Tapi begitu takutnya dia kehilangan Sang Ukhti. sehingga dia memberanikan diri untuk menanyakan itu. (wait.. what happen aya naon? Akhi Ukhti, kalian tahu syari’at..!)
Atau sebagai Sang Ukhti yang begitu kaget mendapat sms seperti itu. Tak tahu apa yang harus dilakukan, karena selama ini Sang Akhi terlihat biasa saja.

Selasa, 22 Maret 2016

Guru Peradaban

Kata-kata yang sangat tidak asing kita dengar, bahkan ada diantara kita yang berfrofesi sebagai guru. Tapi seberapa besar tanggungjawab guru terhadap perkembangan moral ummat dan bangsa ini?

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa menuntut ilmu adalah wajib hukumnya, demikian sebaliknya, menyampaikannya adalah kewajiban. Seperti yang kita ketahui betapa besar ganjaran bagi seorang guru yaitu syurga, bagi mereka yang mengajarkan kebaikan. Sedemikian besarkah ganjaran yang diterima seorang guru?

 Seberapa besarkah peran guru dalam perkembangan moralitas bangsa ini? Sebagaimana kita ketahui, baik buruknya
seseorang dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan keluarga, terlebih lagi lingkungan masyarakat. Di sini semua elemen bertanggungjawab. Seorang ibu yang merupakan guru pertama dan utama seorang anak, al ummu madrasatul ummah. Begitu juga seorang ayah, like father like son. Begitu juga dengan kita anggota keluarga dan anggota masyarkat, memiliki andil yang besar dalam perkembangan moralitas ummat dan bangsa.

Rabu, 09 Maret 2016

Doa Ketika Menghadapi kesulitan

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu,  Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 
 اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
 
 “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 2427, Ibnu Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah no. 351, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashfahan: 2/305, Imam Al-Ashbahani dalam al-Targhib: 1/131. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam  Silsilah Shahihah 6/902, no. 2886 dan mengatakan, “Isnadnya shahih sesuai syarat Muslim.”)
Doa ini juga disebutkan oleh Pengarang Hisnul Muslim, DR. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani, pada hal. 90 dengan judul, “Doa bagi siapa yang mendapatkan kesulitan.” Beliau menyebutkan bahwa Syaikh al-Arnauth menshahihkannya dalam Takhrij al-Adzkar lil Nawawi, hal. 106 

Rabu, 17 Februari 2016

Wara' (Berhati-hati Terhadap Syubhat)

Hendaklah manusia berhati-hati terhadap hal-hal yang dihamramkan dan segala syubhat. Hal itu sebagai pelaksanaan dari sabda Rasulullah SAW:
“Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang sama-samar yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Maka barangsiapa yang memelihara diri dari syubhat-syubhat, berarti telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti telas terjatuh dalam hal yang diharamkan.” (HR.Mutafaq ‘alaih)
Sikap Wara’ yang paling tinggi tingkatannya adalah yang disebutkan oleh Rasulullah Saw.dalam hadits beliau:

Senin, 08 Februari 2016

Hati-hati dengan "Katanya"

bismillahirrahmaanirrahiim
                Dunia kini sangat ‘datar’ dan kian ‘menyempit’, hampir tiap sudut belahan dunia kini dengan sangat mudah untuk diketahui, hal ini disebabkan pesatnya perkembangan teknologi informasi. Hal ini juga berdampak semakin merajanya informasi dusta yang hanya mengandalkan dalil ‘katanya’.
                Selaku seorang muslim, kita memiliki rambu-rambu yang harus ditaati, jika tidak, artinya kita sedang menyiapkan azab untuk diri kita sendiri. Begitu juga yang berkaitan dengan informasi, kita memiliki rambu-rambu yang harus kita taati:

Kamis, 28 Januari 2016

Jadilah kitab meskipun Tanpa Judul

Kun kitaaban mufiidan bila 'unwaanan, wa laa takun 'unwaanan bila kitaaban. Jadilah kitab yang bermanfaat walaupun tanpa judul. Namun, jangan menjadi judul tanpa kitab.

Pepatah dalam bahasa Arab itu menyiratkan makna yang dalam, terutama menyangkut kondisi bangsa saat ini yang sarat konflik perebutan kekuasaan dan pengabaian amanah oleh pemimpin-pemimpin yang tidak menebar manfaat dengan jabatan dan otoritas yang dimilikinya. Bangsa ini telah kehilangan ruuhul jundiyah, yakni jiwa ksatria. Jundiyah adalah karakter keprajuritan yang di dalamnya terkandung jiwa ksatria sebagaimana diwariskan pejuang dan ulama bangsa ini saat perjuangan kemerdekaan.


Semangat perjuangan (hamasah jundiyah) adalah semangat untuk berperan dan bukan semangat untuk mengejar jabatan, posisi, dan gelar-gelar duniawi lainnya (hamasah manshabiyah). Saat ini, jiwa ksatria itu makin menghilang. Sebaliknya, muncul jiwa-jiwa kerdil dan pengecut yang menginginkan otoritas, kekuasaan, dan jabatan, tetapi tidak mau bertanggung jawab, apalagi berkurban. Yang terjadi adalah perebutan jabatan, baik di partai politik, ormas, maupun pemerintahan. Orang berlomba-lomba mengikuti persaingan untuk mendapatkan jabatan, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Akibatnya, di negeri ini banyak orang memiliki "judul", baik judul akademis, judul keagamaan, judul kemiliteran, maupun judul birokratis, yang tanpa makna. Ada judulnya, tetapi tanpa substansi, tanpa isi, dan tanpa roh.

Padahal, ada kisah-kisah indah dan heroik berbagai bangsa di dunia. Misalnya, dalam Sirah Shahabah, disebutkan bahwa Said bin Zaid pernah menolak amanah menjadi gubernur di Himsh (Syria). Hal ini membuat Umar bin Khattab RA mencengkeram leher gamisnya seraya menghardiknya, "Celaka kau, Said! Kau berikan beban yang berat di pundakku dan kau menolak membantuku." Baru kemudian, dengan berat hati, Said bin Zaid mau menjadi gubernur.

Ada lagi kisah lain, yaitu Umar bin Khattab memberhentikan Khalid bin Walid pada saat memimpin perang. Hal ini dilakukan untuk menghentikan pengultusan kepada sosok panglima yang selalu berhasil memenangkan pertempuran ini. Khalid menerimanya dengan ikhlas. Dengan singkat, ia berujar, "Aku berperang karena Allah dan bukan karena Umar atau jabatanku sebagai panglima." Ia pun tetap berperang sebagai seorang prajurit biasa. Khalid dicopot "judul"-nya sebagai panglima perang. Namun, ia tetap membuat "kitab" dan membantu menorehkan kemenangan.

Ibrah yang bisa dipetik dari kisah-kisah tersebut adalah janganlah menjadi judul tanpa kitab; memiliki pangkat, tetapi tidak menuai manfaat. Maka, ruuhul jundiyah atau jiwa ksatria yang penuh pengorbanan harus dihadirkan kembali di tengah bangsa ini sehingga tidak timbul hubbul manaashib, yaitu cinta kepada kepangkatan, jabatan-jabatan, bahkan munafasah 'alal manashib, berlomba-lomba untuk meraih jabatan-jabatan. Semoga.

*sumber:
 Republika
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Minggu, 03 Januari 2016

Menangis yang Mengantarkan ke Surga

Menangis merupakan satu hal yang sangat erat dengan kehidupan manusia, bahkan menangis meruapakn salah satu hal yang pertama kali manusia lakukan tatkala memasuki alam dunia. Sehingga ada yang mengatakan, ada waktunya tertawa, ada waktunya menangis, yang menunjukkan betapa eratnya menangis dengan kehidupan manusia. Bahkan bisa dikatakan tidak normal jika manusia tidak pernah menangis, karena secara kodrat Allah telah menghadirkan menangis dalam kehidupan manusia.

“Dan Dialah Yang menjadikan manusai tertawa dan menangis”. (Qs. An-Najm:43)

Sesuatu yang terpenting dari menangis adalah dengan menangis, kita bisa mendapatkan naungan Allah di Yaumil Akhir kelak. Tapi, pertanyaannya, menangis yang seperti apakah itu?
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

 “Ada tujuh  golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:  1) Imam (pemimpin) yang adil, 2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabb-Nya, 3) seseorang yang hatinya terkait dengan masjid, 4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, 5) seorang laki-laki yang dibujuk oleh wanita yang memiliki kedudukan lagi berparas cantik, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ 6) Seseorang yang bershadaqah secara sembunyi sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, 7) dan Seseorang yang menyendiri untuk mengingat Allah, lalu berlinanglah air matanya.”(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu, Rasulullah SAW juga mengabarkan bahwa seseorang hamba yang menangis tidak akan dimasukkan ke dalam neraka. Menangis yang seperti apakah itu?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seseorang yang menangis karena takut kepada Allah tidak akan masuk Neraka, hingga air susu masuk kembali kepada ambinya.” (HR. At-Tirmidzi, kitab fadbaa-ilul jibaad ‘an Rasulillaah, bab Maa Jaa-a fii Harasi fii sabiilillaah. Ia berkata, “Hadits hasan shahih.”)

“Dua mata, yang keduanya tidak akan tersentuh api Neraka:  yaitu 1) Mata yang menangis karena takut kepada Allah, 2) mata yang dimalam hari berjaga-jaga (dari musuh) di jalan Alllah.” (  HR. At-Tirmidzi, kitab fadbaa-ilul jibaad ‘an Rasulillaah, bab Maa Jaa-a fii Harasi fii sabiilillaah. Dishahihkan oleh Syaikh al-Al-bani dalam al-Misykaah (no. 3829).

Dan banyak lagi janji-janji Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang yang menangis, tentunya menangis karena takut Kepada Allah, takut akan siksanya yang Maha Dahsyat.

Semoga Bermanfaat, dan semoga kita bisa mnejadi bagian dari orang-orang yang menangis karena takut kepada Allah.
Wallahu a’lam bish shawab