Selasa, 22 Maret 2016

Guru Peradaban

Kata-kata yang sangat tidak asing kita dengar, bahkan ada diantara kita yang berfrofesi sebagai guru. Tapi seberapa besar tanggungjawab guru terhadap perkembangan moral ummat dan bangsa ini?

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa menuntut ilmu adalah wajib hukumnya, demikian sebaliknya, menyampaikannya adalah kewajiban. Seperti yang kita ketahui betapa besar ganjaran bagi seorang guru yaitu syurga, bagi mereka yang mengajarkan kebaikan. Sedemikian besarkah ganjaran yang diterima seorang guru?

 Seberapa besarkah peran guru dalam perkembangan moralitas bangsa ini? Sebagaimana kita ketahui, baik buruknya
seseorang dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan keluarga, terlebih lagi lingkungan masyarakat. Di sini semua elemen bertanggungjawab. Seorang ibu yang merupakan guru pertama dan utama seorang anak, al ummu madrasatul ummah. Begitu juga seorang ayah, like father like son. Begitu juga dengan kita anggota keluarga dan anggota masyarkat, memiliki andil yang besar dalam perkembangan moralitas ummat dan bangsa.

Rabu, 09 Maret 2016

Doa Ketika Menghadapi kesulitan

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu,  Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 
 اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
 
 “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 2427, Ibnu Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah no. 351, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashfahan: 2/305, Imam Al-Ashbahani dalam al-Targhib: 1/131. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam  Silsilah Shahihah 6/902, no. 2886 dan mengatakan, “Isnadnya shahih sesuai syarat Muslim.”)
Doa ini juga disebutkan oleh Pengarang Hisnul Muslim, DR. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani, pada hal. 90 dengan judul, “Doa bagi siapa yang mendapatkan kesulitan.” Beliau menyebutkan bahwa Syaikh al-Arnauth menshahihkannya dalam Takhrij al-Adzkar lil Nawawi, hal. 106