Rabu, 17 Februari 2016

Wara' (Berhati-hati Terhadap Syubhat)

Hendaklah manusia berhati-hati terhadap hal-hal yang dihamramkan dan segala syubhat. Hal itu sebagai pelaksanaan dari sabda Rasulullah SAW:
“Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang sama-samar yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Maka barangsiapa yang memelihara diri dari syubhat-syubhat, berarti telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti telas terjatuh dalam hal yang diharamkan.” (HR.Mutafaq ‘alaih)
Sikap Wara’ yang paling tinggi tingkatannya adalah yang disebutkan oleh Rasulullah Saw.dalam hadits beliau:

Senin, 08 Februari 2016

Hati-hati dengan "Katanya"

bismillahirrahmaanirrahiim
                Dunia kini sangat ‘datar’ dan kian ‘menyempit’, hampir tiap sudut belahan dunia kini dengan sangat mudah untuk diketahui, hal ini disebabkan pesatnya perkembangan teknologi informasi. Hal ini juga berdampak semakin merajanya informasi dusta yang hanya mengandalkan dalil ‘katanya’.
                Selaku seorang muslim, kita memiliki rambu-rambu yang harus ditaati, jika tidak, artinya kita sedang menyiapkan azab untuk diri kita sendiri. Begitu juga yang berkaitan dengan informasi, kita memiliki rambu-rambu yang harus kita taati:

Kamis, 28 Januari 2016

Jadilah kitab meskipun Tanpa Judul

Kun kitaaban mufiidan bila 'unwaanan, wa laa takun 'unwaanan bila kitaaban. Jadilah kitab yang bermanfaat walaupun tanpa judul. Namun, jangan menjadi judul tanpa kitab.

Pepatah dalam bahasa Arab itu menyiratkan makna yang dalam, terutama menyangkut kondisi bangsa saat ini yang sarat konflik perebutan kekuasaan dan pengabaian amanah oleh pemimpin-pemimpin yang tidak menebar manfaat dengan jabatan dan otoritas yang dimilikinya. Bangsa ini telah kehilangan ruuhul jundiyah, yakni jiwa ksatria. Jundiyah adalah karakter keprajuritan yang di dalamnya terkandung jiwa ksatria sebagaimana diwariskan pejuang dan ulama bangsa ini saat perjuangan kemerdekaan.


Semangat perjuangan (hamasah jundiyah) adalah semangat untuk berperan dan bukan semangat untuk mengejar jabatan, posisi, dan gelar-gelar duniawi lainnya (hamasah manshabiyah). Saat ini, jiwa ksatria itu makin menghilang. Sebaliknya, muncul jiwa-jiwa kerdil dan pengecut yang menginginkan otoritas, kekuasaan, dan jabatan, tetapi tidak mau bertanggung jawab, apalagi berkurban. Yang terjadi adalah perebutan jabatan, baik di partai politik, ormas, maupun pemerintahan. Orang berlomba-lomba mengikuti persaingan untuk mendapatkan jabatan, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Akibatnya, di negeri ini banyak orang memiliki "judul", baik judul akademis, judul keagamaan, judul kemiliteran, maupun judul birokratis, yang tanpa makna. Ada judulnya, tetapi tanpa substansi, tanpa isi, dan tanpa roh.

Padahal, ada kisah-kisah indah dan heroik berbagai bangsa di dunia. Misalnya, dalam Sirah Shahabah, disebutkan bahwa Said bin Zaid pernah menolak amanah menjadi gubernur di Himsh (Syria). Hal ini membuat Umar bin Khattab RA mencengkeram leher gamisnya seraya menghardiknya, "Celaka kau, Said! Kau berikan beban yang berat di pundakku dan kau menolak membantuku." Baru kemudian, dengan berat hati, Said bin Zaid mau menjadi gubernur.

Ada lagi kisah lain, yaitu Umar bin Khattab memberhentikan Khalid bin Walid pada saat memimpin perang. Hal ini dilakukan untuk menghentikan pengultusan kepada sosok panglima yang selalu berhasil memenangkan pertempuran ini. Khalid menerimanya dengan ikhlas. Dengan singkat, ia berujar, "Aku berperang karena Allah dan bukan karena Umar atau jabatanku sebagai panglima." Ia pun tetap berperang sebagai seorang prajurit biasa. Khalid dicopot "judul"-nya sebagai panglima perang. Namun, ia tetap membuat "kitab" dan membantu menorehkan kemenangan.

Ibrah yang bisa dipetik dari kisah-kisah tersebut adalah janganlah menjadi judul tanpa kitab; memiliki pangkat, tetapi tidak menuai manfaat. Maka, ruuhul jundiyah atau jiwa ksatria yang penuh pengorbanan harus dihadirkan kembali di tengah bangsa ini sehingga tidak timbul hubbul manaashib, yaitu cinta kepada kepangkatan, jabatan-jabatan, bahkan munafasah 'alal manashib, berlomba-lomba untuk meraih jabatan-jabatan. Semoga.

*sumber:
 Republika
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Minggu, 03 Januari 2016

Menangis yang Mengantarkan ke Surga

Menangis merupakan satu hal yang sangat erat dengan kehidupan manusia, bahkan menangis meruapakn salah satu hal yang pertama kali manusia lakukan tatkala memasuki alam dunia. Sehingga ada yang mengatakan, ada waktunya tertawa, ada waktunya menangis, yang menunjukkan betapa eratnya menangis dengan kehidupan manusia. Bahkan bisa dikatakan tidak normal jika manusia tidak pernah menangis, karena secara kodrat Allah telah menghadirkan menangis dalam kehidupan manusia.

“Dan Dialah Yang menjadikan manusai tertawa dan menangis”. (Qs. An-Najm:43)

Sesuatu yang terpenting dari menangis adalah dengan menangis, kita bisa mendapatkan naungan Allah di Yaumil Akhir kelak. Tapi, pertanyaannya, menangis yang seperti apakah itu?
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

 “Ada tujuh  golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:  1) Imam (pemimpin) yang adil, 2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabb-Nya, 3) seseorang yang hatinya terkait dengan masjid, 4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, 5) seorang laki-laki yang dibujuk oleh wanita yang memiliki kedudukan lagi berparas cantik, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ 6) Seseorang yang bershadaqah secara sembunyi sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, 7) dan Seseorang yang menyendiri untuk mengingat Allah, lalu berlinanglah air matanya.”(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu, Rasulullah SAW juga mengabarkan bahwa seseorang hamba yang menangis tidak akan dimasukkan ke dalam neraka. Menangis yang seperti apakah itu?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seseorang yang menangis karena takut kepada Allah tidak akan masuk Neraka, hingga air susu masuk kembali kepada ambinya.” (HR. At-Tirmidzi, kitab fadbaa-ilul jibaad ‘an Rasulillaah, bab Maa Jaa-a fii Harasi fii sabiilillaah. Ia berkata, “Hadits hasan shahih.”)

“Dua mata, yang keduanya tidak akan tersentuh api Neraka:  yaitu 1) Mata yang menangis karena takut kepada Allah, 2) mata yang dimalam hari berjaga-jaga (dari musuh) di jalan Alllah.” (  HR. At-Tirmidzi, kitab fadbaa-ilul jibaad ‘an Rasulillaah, bab Maa Jaa-a fii Harasi fii sabiilillaah. Dishahihkan oleh Syaikh al-Al-bani dalam al-Misykaah (no. 3829).

Dan banyak lagi janji-janji Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang yang menangis, tentunya menangis karena takut Kepada Allah, takut akan siksanya yang Maha Dahsyat.

Semoga Bermanfaat, dan semoga kita bisa mnejadi bagian dari orang-orang yang menangis karena takut kepada Allah.
Wallahu a’lam bish shawab